Selasa, 24 Maret 2015

Perpindahan

Gerimis mengawali Pagi yang tenang. Kala mobil jeep hitam melaju dengan kecepatan normal. Aku tahu ini adalah menit terakhir, menghirup udara jakarta. Dingin semakin nyata, saat kaca mobil berembun. Ibu yang saat itu duduk disampingku memberi arahan pada supir dan kakakku, yang tengah asyik bercerita. Aku jelas tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Wajar aku masih berusia 6tahun. Yang aku ingat, mobil ini sudah melewati sekolahku.

dari dalam aku menatap sekolahku yang rindang. Otakku kembali dirombak oleh ingatan masa indah, saat aku masih didalam sana. Suara canda dan bel sekolah menyelonong dalam telingaku. Aku menyentuh kaca mobil dengan kedua tanganku, seperti meratapi perpisahan. Ego, membuatku ingin membawa lari sekolah, serta kehidupannya ikut denganku. Tapi, semakin jauh mobil melaju, semakin kecil pula harapanku. Aku menatap jalanan yang aku lewati, hingga ada keinginan untuk tinggal. tapi aku masih terlalu kecil untuk hidup sendirian.

seketika aku bertanya pada wanita yang duduk disebelahku, 'Ma, kenapa kita pindah? Bukankah kehidupan kita baik-baik aja?'
ibuku tersenyum sembari mengelus rambutku. Tatapan yang hangat membuatku bingung.

Dengan pelan ibuku berkata 'nenekmu sudah sakit-sakitan, dan dia butuh kehadiran kita semua kamu sayangkan sama nenek kamu?'
aku menatap ibuku dengan keheranan. Aku tahu ini sulit. Aku tidak menjawab, dan langsung memandang keluar. Perjalanan menuju bandara masih terlalu jauh. Aku tak lagi berkata apa-apa. Sepanjang jalan aku mengenang lagi, saat masih dengan teman-temanku di sekolah. Aku pernah memecahkan jendela kelas 2 saat jam olahraga, dan bersembunyi ditaman. Dan aku juga ingat bagaimana rasanya dicubit oleh cewek, karena salah masuk WC dan dihukum hormat bendera sampai jam pulang sekolah.

Tapi ada 1moment yang membuat aku merasa paling hebat. Ketika aku ikut lomba pesantrenkilat. Dan menjadi juara 2. Aku merasa bangga karena sudah membuat ali mengucapkan 'selamat' padaku. Disisi lain, teman-teman yang memprediksi bahwa ali akan menang, harus tertunduk lesu dan menyorakkan namaku.

Lamunanku buyar, ketika ibuku berkata 'zal, kita udah nyampe. Ayo siap-siap' aku bergegas merapihkan barang dan keluar.
didalam pesawat aku bertanya pada dirisendiri. 'Apa kah hidupku akan lebih nyaman saat aku pindah?' entahlah,, tapi bila diceritakan lebih jauh lagi. Hidupku tidak seperti yang aku bayangkan.
Kini, aku sadar. Tidak selamanya manusia akan menemukan kenyamanan, ada masa dimana mereka harus bertemu dengan kepahitan.
Dari perpindahan aku mengerti, kehidupan begitu kelam tanpa pengalaman..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar