Sabtu, 28 Maret 2015

Halte

Sepulang dari kampus, aku menyempatkan diri pergi ke toko buku. aku duduk dihalte sendirian, menunggu bus yang tak kunjung datang. Tak lama kemudian, seorang wanita datang dan duduk bersamaku. Dia melempar senyuman dan duduk disampingku. Aku membalas senyumnya, kita berdua duduk tanpa obrolan apa-apa. 'setidaknya aku tak sendirian' bisikku dalam hati. Aku terus menatap wanita itu. Bibirnya merona, kecantikannya membuatku berpikir, pasti banyak pria yang menyukainya. Aku senyum sendiri, berharap dia menoleh padaku dan bisa menikmati senyumanya yang manis itu sekali lagi. Langit mulai mendung, diikuti gemuruh petir. Percikan air hujan mulai turun. Aku melihat wanita itu mulai gelisah. Seolah khawatir akan sesuatu.

Wajahnya bergerut. tangannya mengepal keras pada tas yang digenggamnya. Aku melirik jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul 6.30. 'sial, sampai detik ini blum ada bus yang datang' kataku sambil bangkit dari tempat dudukku. Aku memandang kelangit, senja pun luntur akibat hujan ini. Aku termangu, melihat wanita yang sedari tadi berdiam diri itu mengusap wajahnya. Aku pikir percikan hujan penyebabnya. perlahan, aku mendekatiny. 'kamu kenapa?' tanyaku pelan. Ku perhatikan raut wajahnya yang basah. Airmatanya mengalir seiring derasnya hujan. Dia tak menjawabku. Tangannya menyeka airmata. Aku menoleh kesemua arah, mencari penyebab yang membuat wanita ini menangis. Tak ada siapapun, kecuali bunyi kendaraan yang bertempur dalam hujan. Lampu halte menyala. Cahayanya menerangi seisi ruangan.

Aku duduk disampingnya dan bertanya dalam hati. 'kenapa dia menangis? Apa aku menakutinya?'
Aku kembali bertanya, 'kamu kenapa? Kok nangis? Kamu sakit? Atau kamu...' ucapanku terhenti, saat dia memandangku. Matanya berkaca-kaca, tangannya ikut menyeka pipi yang dibasahi airmata. Dia kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Aku menutupi kebingunganku dengan senyuman. Hujan mulai reda. Aku terus menatap wajahnya yang dipalingkan keseberang jalan.
Sebuah sedan, berhenti tepat dihadapan kami berdua. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya. Dengan tergesa-gesa, dia langsung menaiki mobil yang sudah menanti diluar.

Kini aku sendiri. Tak ada seorang pun dihalte. Aku kembali ke tempat dudukku dan 'Ah, jaketku' aku kaget saat dingin menyelimuti tubuhku. Aku berlari kecil keluar halte, mencari mobil yang tadi dinaiki wanita itu. Diatas trotoar, aku melambaikan tangan dan berteriak 'Hey, jaketku Hey!!'
aku menatap mobil itu dari kejauhan, tubuhku basah oleh tetesan hujan yang reda. Aku menghela nafas panjang. Dan kembali kedalam halte.

Aku mengambil sebatang rokok yang terselip di dompet. Membakar dan menghisapnya dengan pelan. 'sial, seandainya aku tidak terbuai dengan dia, aku tidak akan seperti ini' ujarku. Tanpa disengaja, mataku mendapati sebuah kartu nama. Aku mengambilnya dan meniliti isi kartu nama tersebut. 'clara wallace, oh jadi namanya clara' aku bergumam. Ku palingkan wajahku ketengah jalan dan tersenyum sendirian.aku berdiri menatap jam tanganku. Sudah waktunya makan malam. Niat untuk pergi ke toko buku aku batalkan.

aku melangkah diatas jalan yang basah. Sembari menyisipkan kartu nama itu dalam dompetku. Sepanjang perjalanan kerumah, aku berdoa. semoga bertemu lagi dengan clara dan mengembalikan kartu nama ini padanya. ...bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar