Rabu, 06 Mei 2015

Putus cinta, rasanya seperti ini.



Semenjak putus dari seyla, gue berpikir untuk istirahat sejenak dari dunia percintaan. gue masih sayang sama seyla, dan masih terlintas jelas dalam benak gue, gimana kenangan-kenangan kita yang pernah terjadi. Hari-hari gue yang awalnya ramai, sekarang mendadak sepi. Handphone gue yang tiap menit berdering, kini senyap bagai rongsokan yang gak kepake lagi. putus cinta itu begini yah rasanya? Ujar gue dalam hati. Gak mungkinkan! Gue ngomong sama tembok, kalau gue galau. Entar gue dikira gila. Gue mencoba mengingat lagi dan lagi, apa kesalahan gue sama dia. Saking capeknya gue mencari kesalahan sendiri, akhirnya gue ketiduran. dengan posisi kepala dikolong tempat tidur, dan tubuh melintang diatas kasur. Anjritt.. putus cinta ternyata seaneh ini. paginya gue bangun. hal yang biasa gue lakuin saat bangun pagi adalah ngecek hape. Ada pesan apa ngga ? Ada telpon apa ngga ? Pas dicek, Cuma wallpaper snoopy yang muncul. Cupu abis.
Gue mandi dan berangkat kekampus. Ngumpul sama teman-teman dikantin mungkin lebih baik, ketimbang nunggu dosen yang gak kunjung datang. Gue pesan segelas es kopi, lalu duduk sendiri. Tak lama setelah itu, andre si pelayan kantin datang.
‘’nih kopinya! Kok sendiri ? Si itu kemana ? Tanya andre ke gue
‘’si itu siapa ?’’ jawab gue ‘’pacar lu maksudnya ?’’ sambung andre.
‘’aaa… ‘’ gue gugup.                               
‘’kenapa ? Udah putus ya ?’’ lanjut andre ‘’iya’’ jawab gue lesu.
Andre terkekeh, dan kembali kehabitatnya (dapur). gue teguk kopi itu dengan pelan. Gue pandang seisi kantin yang ramai. Tak ada yang special bagi mereka yang putus cinta, keramaian terasa sepi tanpa seseorang dihati. Diseberang meja gue, terlihat ada cowok sama ceweknya lagi ngobrol. Si cewek, ketawa lepas mendengar cerita si cowok, lalu cowok membelai wajah si cewek. Romantis sekali. Gue cuma bisa melihat mereka bahagia sambil menahan emosi, sembari meremas gelas kopi yang mencair ditangan. Rasanya pengen gue lemparin gelas ke arah cowoknya, dan berkata ‘’ayo sayang kita pergi’’ pada ceweknya. Tapi gak mungkin. Tiba-tiba evan dari arah belakang menepuk bahu gue yang membuat lamunan gue pecah seketika.
‘’woy bengong aja lu dari tadi ?’’ kata evan meledek.
‘’eh..evan’’ sahut gue pelan. Evan duduk dihadapan gue, dan menempelkan tangannya di jidat gue.
‘’lu kenapa ? Sakit ?’’ Tanya evan. Gue geleng kepala. ‘’trus kenapa ? Kok hari ini lu lemes banget ?’’ gue diam, sambil memainkan sedotan dalam gelas.
‘’gue denger-denger katanya lu sama seyla berantem ?’ evan penasaran
‘iya’
‘kok gitu ? Emang ada masalah apa ?’ sambung evan
‘udahlah van gak usah dibahas’ cetus gue sewot.
Sejujurnya, putus cinta kali ini bikin gue malas buat ngobrol. Gue ngerasa gak ada yang bisa ngertiin perasaan seseorang kecuali dirinya sendiri.
Suasana hening sejenak. evan melumat habis roti yang dimakannya dari tadi. Dan mengajak gue masuk kelas dan mengikuti kuliah. Seyla terlihat cantik hari itu. dia duduk dengan teman cewek yang lain. Sesekali gue menjeling ke arah dia. Untuk melihat gimana raut wajahnya saat putus dari gue. masih sedih apa ngga ? Dia pun demikian. hingga jam kuliah usai tak ada tegursapa antara kita berdua. Dia pulang dengan teman-temannya dan gue pulang dengan rasa lapar yang begitu mencekam.
Liburan semester tiba. Aktifitas kampus sepi tak bernyawa. Sebagian memilih pulang ke kampung halaman, sebagian lagi memilih bertahan dikos mereka masing-masing. Gue salah satunya. Seminggu dikos, membuat gue bosan. rasanya seperti tinggal disuatu pulau tak berpenghuni. Yang terlihat hanya kamar-kamar kosong. Serem juga sih. Kayak hatinya jomblo yang ditinggal pergi kekasih. Miris.
Sampai pada suatu malam minggu gue diajak sama gery keluar. Gue sama gery emang udah lama ada niat buat refreshing tapi ketunda, karena aktifitas kuliah kita masing-masing. Malam itu kita ke mol. keluar masuk distro bukan mau beli, tapi cuma lihat-lihat, tanya-tanya dan akhirnya keluar lagi. kita terlihat seperti 2orang homo yang mencari tempat mangkal tapi gak kunjung ketemu.
‘lu nyari apa sih ? gue capek nih jalan terus !’ Tanya gue ke gery.
‘gue lagi nyari sesuatu’ jawab gery singkat. ‘emang apaan ? udah hampir sejam tapi gak ada barang yang lu beli’ gue kesel.
Hingga akhirnya.
‘nah ini dia yang gue cari dari tadi hahaha’ gery dengan bangganya ngambil sebuah kotak kecil berisi celana dalam, dan menggoyangkan dihadapan gue.
‘kampret.. dipasar juga jual kalo ini’ sahut gue sewot.
Setelah menghabiskan waktu sejam untuk mencari celana dalam, gue sama Gerry pulang ke kos masing-masing. sebelum tidur, gue iseng buka facebook. Beranda gue penuh dengan status malam minggu. Mata gue terbelalak, seperti pengen keluar dari tempatnya. Bukan karena konten porno tapi karena sebuah foto. Ya, foto mantan gue sama pacar barunya. 15menit foto itu di-update. Saat itu juga darah gue mendidih, detak jantung gue makin cepat. tanpa sadar, gue histeris dan teriak, ‘APAAA DIA UDAH PUNYA PACAR ???? TIDAAAAAAKKKKKKK !!’ teriakan gue terdengar seperti waria, yang lari terbirit-birit karena dikejar satpol-pp. Hal ini pula yang membuat penjaga kos melabrak gue.
‘woy jangan teriak-teriak lu kirain ini dihutan apa ?’ teguran penjaga kos membuat gue salah tingkah. Gue nyengir, sambil bilang ‘hehehe maaf opa, gak sengaja’
opa pergi tanpa mengatakan apapun. Pintu kamar gue kunci, diikuti dengan airmata yang berlinang. Gue nangis sambil liatin fotonya. Gue gak nyangka, begitu cepat dia dapat pengganti. Gak kayak gue, yang masih terombang-ambing dalam kenangan. gue mencoba untuk tegar, mengahadapi masa-masa sulit pasca putus dari seyla. putus cinta, bisa membuat seseorang melakukan hal-hal diluar dugaan manusia. seperti yang lakuin malam itu. gue nangis meluk bantal, melampiaskan amarah gue sambil nendang tembok. dan hasilnya jempol kaki gue bengkak. Tangisan gue menyatu, antara sakit hati dan sakit kaki. putus cinta membuat rasa manis menjadi hambar, terang menjadi gelap dan cinta namun terluka. gue hanya bisa mengikhlaskan semua. Dan berharap akan mendapat yang lebih baik dari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar