Aku menulis ini, dibawah hujan dibulan mey. Hari masih terlalu pagi, kicau burung samar-samar terdengar dibalik pepohonan.
Aku menulis ini, saat dingin memelukku. Aku menggigil kedinginan, dengan cerutu tertanam dimulutku. Tak banyak yang bisa aku perbuat, selain meneguk secangkir kopi dan menuai rindu yang berserakan ditanah.
dibalik jendela, aku tersenyum. Mungkin aku sudah gila, memaki hujan yang kian deras. Aku benci mengatakan rindu, saat binar matamu ditutup waktu.
Puing kenangan membentuk markasnya, melahirkan serdadu dan menyerang pikiranku. Aku tahu, kita pernah berteduh disini. Air matamu mengucur, menyelip dipipimu, dengan lembut jemari ini mengusapnya.
Aku memelukmu, mengatakan semua baik-baik saja. Binar matamu, seolah berkata sesuatu yang entah artinya.
Hujan tak kunjung reda, kopi yang kusenyap habis tak tersisa. Kamu berlari, dan aku tertinggal disini.
@rizalisme_
Kamis, 07 Mei 2015
Rabu, 06 Mei 2015
Putus cinta, rasanya seperti ini.
Semenjak putus dari seyla, gue
berpikir untuk istirahat sejenak dari dunia percintaan. gue masih sayang sama
seyla, dan masih terlintas jelas dalam benak gue, gimana kenangan-kenangan kita
yang pernah terjadi. Hari-hari gue yang awalnya ramai, sekarang mendadak sepi.
Handphone gue yang tiap menit berdering, kini senyap bagai rongsokan yang gak
kepake lagi. putus cinta itu begini yah rasanya? Ujar gue dalam hati. Gak
mungkinkan! Gue ngomong sama tembok, kalau gue galau. Entar gue dikira gila. Gue
mencoba mengingat lagi dan lagi, apa kesalahan gue sama dia. Saking capeknya
gue mencari kesalahan sendiri, akhirnya gue ketiduran. dengan posisi kepala dikolong
tempat tidur, dan tubuh melintang diatas kasur. Anjritt.. putus cinta ternyata
seaneh ini. paginya gue bangun. hal yang biasa gue lakuin saat bangun pagi
adalah ngecek hape. Ada pesan apa ngga ? Ada telpon apa ngga ? Pas dicek, Cuma
wallpaper snoopy yang muncul. Cupu abis.
Gue mandi dan berangkat kekampus. Ngumpul
sama teman-teman dikantin mungkin lebih baik, ketimbang nunggu dosen yang gak
kunjung datang. Gue pesan segelas es kopi, lalu duduk sendiri. Tak lama setelah
itu, andre si pelayan kantin datang.
‘’nih kopinya! Kok sendiri ? Si
itu kemana ? Tanya andre ke gue
‘’si itu siapa ?’’ jawab gue
‘’pacar lu maksudnya ?’’ sambung andre.
‘’aaa… ‘’ gue gugup.
‘’kenapa ? Udah putus ya ?’’
lanjut andre ‘’iya’’ jawab gue lesu.
Andre terkekeh, dan kembali
kehabitatnya (dapur). gue teguk kopi itu dengan pelan. Gue pandang seisi kantin
yang ramai. Tak ada yang special bagi mereka yang putus cinta, keramaian terasa
sepi tanpa seseorang dihati. Diseberang meja gue, terlihat ada cowok sama
ceweknya lagi ngobrol. Si cewek, ketawa lepas mendengar cerita si cowok, lalu
cowok membelai wajah si cewek. Romantis sekali. Gue cuma bisa melihat mereka
bahagia sambil menahan emosi, sembari meremas gelas kopi yang mencair ditangan.
Rasanya pengen gue lemparin gelas ke arah cowoknya, dan berkata ‘’ayo sayang
kita pergi’’ pada ceweknya. Tapi gak mungkin. Tiba-tiba evan dari arah belakang
menepuk bahu gue yang membuat lamunan gue pecah seketika.
‘’woy bengong aja lu dari tadi ?’’
kata evan meledek.
‘’eh..evan’’ sahut gue pelan. Evan
duduk dihadapan gue, dan menempelkan tangannya di jidat gue.
‘’lu kenapa ? Sakit ?’’ Tanya
evan. Gue geleng kepala. ‘’trus kenapa ? Kok hari ini lu lemes banget ?’’ gue
diam, sambil memainkan sedotan dalam gelas.
‘’gue denger-denger katanya lu
sama seyla berantem ?’ evan penasaran
‘iya’
‘kok gitu ? Emang ada masalah apa ?’
sambung evan
‘udahlah van gak usah dibahas’
cetus gue sewot.
Sejujurnya, putus cinta kali ini
bikin gue malas buat ngobrol. Gue ngerasa gak ada yang bisa ngertiin perasaan
seseorang kecuali dirinya sendiri.
Suasana hening sejenak. evan melumat
habis roti yang dimakannya dari tadi. Dan mengajak gue masuk kelas dan mengikuti
kuliah. Seyla terlihat cantik hari itu. dia duduk dengan teman cewek yang lain.
Sesekali gue menjeling ke arah dia. Untuk melihat gimana raut wajahnya saat
putus dari gue. masih sedih apa ngga ? Dia pun demikian. hingga jam kuliah usai
tak ada tegursapa antara kita berdua. Dia pulang dengan teman-temannya dan gue
pulang dengan rasa lapar yang begitu mencekam.
Liburan semester tiba. Aktifitas
kampus sepi tak bernyawa. Sebagian memilih pulang ke kampung halaman, sebagian
lagi memilih bertahan dikos mereka masing-masing. Gue salah satunya. Seminggu
dikos, membuat gue bosan. rasanya seperti tinggal disuatu pulau tak
berpenghuni. Yang terlihat hanya kamar-kamar kosong. Serem juga sih. Kayak
hatinya jomblo yang ditinggal pergi kekasih. Miris.
Sampai pada suatu malam minggu gue
diajak sama gery keluar. Gue sama gery emang udah lama ada niat buat refreshing
tapi ketunda, karena aktifitas kuliah kita masing-masing. Malam itu kita ke
mol. keluar masuk distro bukan mau beli, tapi cuma lihat-lihat, tanya-tanya dan
akhirnya keluar lagi. kita terlihat seperti 2orang homo yang mencari tempat
mangkal tapi gak kunjung ketemu.
‘lu nyari apa sih ? gue capek nih
jalan terus !’ Tanya gue ke gery.
‘gue lagi nyari sesuatu’ jawab
gery singkat. ‘emang apaan ? udah hampir sejam tapi gak ada barang yang lu
beli’ gue kesel.
Hingga akhirnya.
‘nah ini dia yang gue cari dari
tadi hahaha’ gery dengan bangganya ngambil sebuah kotak kecil berisi celana
dalam, dan menggoyangkan dihadapan gue.
‘kampret.. dipasar juga jual kalo
ini’ sahut gue sewot.
Setelah menghabiskan waktu sejam
untuk mencari celana dalam, gue sama Gerry pulang ke kos masing-masing. sebelum
tidur, gue iseng buka facebook. Beranda gue penuh dengan status malam minggu.
Mata gue terbelalak, seperti pengen keluar dari tempatnya. Bukan karena konten
porno tapi karena sebuah foto. Ya, foto mantan gue sama pacar barunya. 15menit
foto itu di-update. Saat itu juga darah gue mendidih, detak jantung gue makin
cepat. tanpa sadar, gue histeris dan teriak, ‘APAAA DIA UDAH PUNYA PACAR ????
TIDAAAAAAKKKKKKK !!’ teriakan gue terdengar seperti waria, yang lari
terbirit-birit karena dikejar satpol-pp. Hal ini pula yang membuat penjaga kos
melabrak gue.
‘woy jangan teriak-teriak lu
kirain ini dihutan apa ?’ teguran penjaga kos membuat gue salah tingkah. Gue
nyengir, sambil bilang ‘hehehe maaf opa, gak sengaja’
opa pergi tanpa mengatakan apapun.
Pintu kamar gue kunci, diikuti dengan airmata yang berlinang. Gue nangis sambil
liatin fotonya. Gue gak nyangka, begitu cepat dia dapat pengganti. Gak kayak
gue, yang masih terombang-ambing dalam kenangan. gue mencoba untuk tegar,
mengahadapi masa-masa sulit pasca putus dari seyla. putus cinta, bisa membuat
seseorang melakukan hal-hal diluar dugaan manusia. seperti yang lakuin malam
itu. gue nangis meluk bantal, melampiaskan amarah gue sambil nendang tembok.
dan hasilnya jempol kaki gue bengkak. Tangisan gue menyatu, antara sakit hati
dan sakit kaki. putus cinta membuat rasa manis menjadi hambar, terang menjadi
gelap dan cinta namun terluka. gue hanya bisa mengikhlaskan semua. Dan berharap
akan mendapat yang lebih baik dari ini.
Langganan:
Komentar (Atom)